845

✅ Contoh Bacaan Surat Yasin dan Terjemahan yg dilengkapi Tahlil dan Doa

Surat yasin pertama kali diturunkan di kota Mekah dan dikenal sebagai surat Makiyyah. Surah yasin mempunyai kandungan seperti tanda-tanda kekuasaan ALLAH SWT.

Contohnya seperti pokok-pokok keimanan, tanda-tanda kematian, hingga perjuangan para syuhada dan para pendakwah.

Surah yasin atau yassen ini biasanya dibaca oleh masyarakat Indonesia pada malam jumat. Surat yasin memang mempunyai keutamaan dan keistimewaan yang luar biasa bagi siapa saja yang mau membaca dan mengamalkanya.

Surat yasin adalah salah satu surat yang popular di kalangan umat islam, contohnya seperti bacaan Ayat Kursi, surat Al Waqiah, surat Ar Rahman, dan surat Al Baqarah.

Surat Makiyah ini diberi naman surat Yasin karena asal mulainya berawal dari huruf arab yakni huruf ” Ya “ dan ” Sin “.

Bacaan surat yasin dan tahlil beserta doa menjadi amalan yang sering dibaca pada malam jumat di kalangan masyarakat muslim di Indonesia.

Surat yasin juga sering dibacakan terlebih khususon untuk orang yang sudah meninggal, agar semua dosanya mendapat pengampunan dan dilapangkan kuburanya.

Dalam membaca surat yasin tidak harus memerlukan banyak orang, kamu bisa membaca surat yasin setiap hari atau setelah sholat fardhu, dengan tujuan memohon ampun atas segala dosa yang telah di perbuat.

Akan tetapi bacaan surat yasin dan tahlil masih menjadi pro dan kontra dikalangan masyarakat Indonesia.

Ada sebagian orang yang menganggap bacaan surat yasin dan tahlil tidak mempunyai dalil atau hadist yang sah dari Rasulullah SAW dan dianggap Bid’ah.

Bacaan surat yasin adalah bacaan dari Al Quran. Jika kita ingin mengamalkan bacaan yang ada di dalam Al Quran sejatinya adalah sebuah doa untuk dipanjatkan kepada ALLAH SWT.

Apabila semua dilakukan dengan ikhlas maka Allah akan memberikan keberkahan kepada hambanya yang membaca surat yasin setiap hari atau setelah sholat fardhu.

Keutamaan Surat Yasin yang Luar Biasa

Bacaan surat yasin biasanya dikhususkan untuk orang yang sudah meninggal. Fadhilah atau keutamaan yang ada pada surah yasin hampir sama dengan surat Al Mulk, surat Ar Rahman dan surat Al Khafi.

Baca Juga : 10 Keutamaan Surat Yasin yang Wajib Anda Ketahui

Baca Juga : Makna dari Kalimat Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Rajiun

Namun, surat yasin mempunyai banyak manfaat dan keutamaan yang luar biasa dan wajib untuk anda ketahui. Contoh keutamaan surat yasin bisa anda lihat dengan cara Klik di bawah ini.

Contoh Bacaan Surat Yasin dan Terjemahan

Surat yasin dan terjemahan berada di juz 23, surat ke 36 yang terdiri dari 83 ayat di dalam Al Quran. Surat yasin atau surat yaseen lebih di kenal orang dengan sebutan yasin atau yasinan.

Surat yasin ini sering dibaca atau dilafalkan sebagai bacaan doa untuk orang yang sakit atau orang yang sudah meninggal.

Baca Juga : Cara Mengirim Doa Khususon untuk Orang Meninggal

Baca Juga : Bacaan Tahlil yang dilengkapi dengan Doa

Jika anda ingin mendengarkan lantunan surat yasin yang merdu sekali bisa cek di youtube dengan kata kunci ” surat yasin paling merdu sedunia mp3 download “. Atau bisa juga masukan kata kunci surat yasin surat yasin mp3 abdurrahman as sudais, surat yasin oleh muzammil hasballah, surat yasin ustadz hanan attaki.

Biasanya bacaan surat yasin dan terjemahan ini dipadukan dengan ayat kursi, tahlil dan doa tahlilan.

Jadi pada umumnya bacaan surat yasin dan terjemahan ini dipadukan dengan doa tahlil yang dicetak dalam 1 buku kecil.

Berikut contoh bacaan surat yasin dan terjemahan lengkap beserta doa tahlilnya.

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ


Ayat 1

يٰسۤ ۚ

Yā sīn.

Artinya : “Ya Sin.”


Ayat 2

وَالْقُرْاٰنِ الْحَكِيْمِۙ

Wal-qur`ânil-ḥakīm.

Artinya : Demi Al-Qur’an yang penuh hikmah.”


Ayat 3

اِنَّكَ لَمِنَ الْمُرْسَلِيْنَۙ

Innakâ laminâl-mursalīn.

Artinya : “Sesungguhnya, engkau (hai Muhammad) adalah salah satu dari rasul-rasul yang diutus Allah.”


Ayat 4

عَلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍۗ

‘Alā ṣirāṭim mustâqīm.

Artinya : “(Yang berada) di atas jalan yang lurus.”


Ayat 5

تَنْزِيْلَ الْعَزِيْزِ الرَّحِيْمِۙ

Tanzīlâl-‘azīzir-raḥīm.

Artinya : “(Sebagai wahyu) yang diturunkan oleh Dzat Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.”


Ayat 6

لِتُنْذِرَ قَوْمًا مَّآ اُنْذِرَ اٰبَاۤؤُهُمْ فَهُمْ غٰفِلُوْنَ

Litunżirâ qaumam mā unżira ābā`uhum fa hum gāfilụn.

Artinya : “Agar engkau memberi peringatan kepada suatu kaum yang nenek moyangnya belum pernah diberi peringatan, maka mereka lalai.”


Ayat 7

لَقَدْ حَقَّ الْقَوْلُ عَلٰٓى اَكْثَرِهِمْ فَهُمْ لَا يُؤْمِنُوْنَ

laqâd ḥaqqâl-qaulu ‘alā akṡarihim fa hum lā yu`minụn.

Artinya : “Sesungguhnya, perkataan atau ketentuan (hukuman) Allah pasti berlaku terhadap kebanyakan mereka, karena mereka tidak beriman.”


Ayat 8

اِنَّا جَعَلْنَا فِيْٓ اَعْنَاقِهِمْ اَغْلٰلًا فَهِيَ اِلَى الْاَذْقَانِ فَهُمْ مُّقْمَحُوْنَ

Innā ja’alnā fī a’nāqihim aglālan fa hiya ilal-ażqāni fa hum muqmâḥụn.

Artinya : “Sesungguhnya, Kami telah memasang belenggu di leher mereka, sampai ke dagu, karena itu mereka tertengadah.”


Ayat 9

وَجَعَلْنَا مِنْۢ بَيْنِ اَيْدِيْهِمْ سَدًّا وَّمِنْ خَلْفِهِمْ سَدًّا فَاَغْشَيْنٰهُمْ فَهُمْ لَا يُبْصِرُوْنَ

Wa ja’alnā mim baini aidīhim saddaw wa min khalfihim saddan fa agsyaināhum fa hum lā yubṣirụn.

Artinya : “Dan Kami jadikan di hadapan mereka sekat atau pembatas (dinding) dan di belakang mereka juga sekat, dan Kami tutup mata mereka sehingga mereka tidak dapat melihat.”


Ayat 10

وَسَوَاۤءٌ عَلَيْهِمْ ءَاَنْذَرْتَهُمْ اَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُوْنَ

Wa sawā`un ‘alaihim a anżartahum âm lam tunżir-hum lā yu`minụn.

Artinya : “Dan sama saja bagi mereka, apakah engkau memberi peringatan kepada mereka atau engkau tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman juga.”


Ayat 11

اِنَّمَا تُنْذِرُ مَنِ اتَّبَعَ الذِّكْرَ وَخَشِيَ الرَّحْمٰنَ بِالْغَيْبِۚ فَبَشِّرْهُ بِمَغْفِرَةٍ وَّاَجْرٍ كَرِيْمٍ

Innamā tunżiru mânittaba’aż-żikra wa khasyiyar-raḥmāna bil-gaīb, fa basysyir-hu bimagfiratiw wa ajring kârīm.

Artinya : “Sesungguhnya engkau (Muhammad) hanyalah memberi peringatan atau anjuran kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan dan anjuran yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pengasih, walaupun mereka tidak melihat-Nya. Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia.”


Ayat 12

اِنَّا نَحْنُ نُحْيِ الْمَوْتٰى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوْا وَاٰثَارَهُمْۗ وَكُلَّ شَيْءٍ اَحْصَيْنٰهُ فِيْٓ اِمَامٍ مُّبِيْنٍ

Innā naḥnu nuḥyil-mautā wa nâktubu mā qaddamụ wa āṡārahum, wa kullâ syai`in aḥṣaināhu fī imāmim mubīn.

Artinya : “Sesungguhnya, Kamilah yang menghidupkan orang-orang yang mati, dan Kamilah yang mencatat apa yang mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka (tinggalkan). Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab yang jelas (Lauh Mahfuzh).”


Ayat 13

وَاضْرِبْ لَهُمْ مَّثَلًا اَصْحٰبَ الْقَرْيَةِۘ اِذْ جَاۤءَهَا الْمُرْسَلُوْنَۚ

Waḍrib lahum mâṡalan aṣ-ḥābal-qaryah, iż jā`ahal-mursalụn.

Artinya : “Dan buatlah suatu perumpamaan untuk mereka, yaitu penduduk suatu negeri, ketika utusan-utusan (para Rasul) datang kepada mereka.”


Ayat 14

اِذْ اَرْسَلْنَآ اِلَيْهِمُ اثْنَيْنِ فَكَذَّبُوْهُمَا فَعَزَّزْنَا بِثَالِثٍ فَقَالُوْٓا اِنَّآ اِلَيْكُمْ مُّرْسَلُوْنَ

Iż arsalnā ilaihimuṡnaini fa każżabụhumā fa ‘azzaznā biṡāliṡin fa qālū innā ilaikum mursâlụn.

Artinya : “(Yaitu) Ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya, kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga, maka ketiga (utusan itu) berkata, “Sesungguhnya, kami adalah orang-orang yang diutus kepadamu.”


Ayat 15

قَالُوْا مَآ اَنْتُمْ اِلَّا بَشَرٌ مِّثْلُنَاۙ وَمَآ اَنْزَلَ الرَّحْمٰنُ مِنْ شَيْءٍۙ اِنْ اَنْتُمْ اِلَّا تَكْذِبُوْنَ

Qālụ mā ântum illā basyarum miṡlunā wa mā ânzalar-raḥmānu min syai`in in antum illā takżibụn.

Artinya : “Mereka (penduduk negeri) menjawab, “Kamu ini tidak lain hanyalah manusia seperti kami, dan (Allah) Yang Maha Pengasih tidak menurunkan sesuatu apa pun, kamu hanyalah pendusta belaka.”


Ayat 16

قَالُوْا رَبُّنَا يَعْلَمُ اِنَّآ اِلَيْكُمْ لَمُرْسَلُوْنَ

Qālụ rabbunā ya’lâmu innā ilaikum lamursâlụn.

Artinya : “Mereka berkata, “Tuhan kami mengetahui bahwa kami adalah utusan-utusan(-Nya) kepada kamu.”


Ayat 17

وَمَا عَلَيْنَآ اِلَّا الْبَلٰغُ الْمُبِيْنُ

Wa mā ‘alainā illal-bâlāgul-mubīn.

Artinya : “Dan kewajiban kami hanyalah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas.”


Ayat 18

قَالُوْٓا اِنَّا تَطَيَّرْنَا بِكُمْۚ لَىِٕنْ لَّمْ تَنْتَهُوْا لَنَرْجُمَنَّكُمْ وَلَيَمَسَّنَّكُمْ مِّنَّا عَذَابٌ اَلِيْمٌ

Qālū innā taṭayyarnā bikum, la`il lam tantahụ lanarjumannakum wa layamassannakum minnā ‘ażābun alīm.

Artinya : “Mereka (penduduk negeri) menjawab, “Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu. Sungguh, jika kamu tidak berhenti (dari dakwah), niscaya kami akan merajam kamu dan kamu pasti akan merasakan siksaan yang pedih dari kami.”


Ayat 19

قَالُوْا طَاۤىِٕرُكُمْ مَّعَكُمْۗ اَىِٕنْ ذُكِّرْتُمْۗ بَلْ اَنْتُمْ قَوْمٌ مُّسْرِفُوْنَ

Qālụ ṭā`irukum ma’âkum, a in żukkirtum, bal ântum qaumum musrifụn.

Artinya : “Mereka (utusan-utusan) itu berkata, “Kemalangan kamu itu adalah karena kamu sendiri. Apakah jika kamu diberi peringatan (Kamu akan celaka? Tidak mungkin, karena kamu hanya bohong belaka), Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampaui batas.”


Ayat 20

وَجَاۤءَ مِنْ اَقْصَا الْمَدِيْنَةِ رَجُلٌ يَّسْعٰى قَالَ يٰقَوْمِ اتَّبِعُوا الْمُرْسَلِيْنَۙ

Wa jā`a min aqṣal-madīnati râjuluy yas’ā qāla yā qaumittabi’ul-mursâlīn.

Artinya : “Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki dengan bergegas dia berkata, “Wahai kaumku! Ikutilah para utusan-utusan itu.”


Ayat 21

اتَّبِعُوْا مَنْ لَّا يَسْـَٔلُكُمْ اَجْرًا وَّهُمْ مُّهْتَدُوْنَ ۔

Ittabi’ụ mal lā yas`alukum ajrâw wa hum muhtâdụn.

Artinya : “Ikutilah orang yang tidak meminta upah kepadamu, dan mereka adalah orang-orang yang memperoleh petunjuk.”


Ayat 22

وَمَا لِيَ لَآ اَعْبُدُ الَّذِيْ فَطَرَنِيْ وَاِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ

Wa mā liya lā a’budullażī faṭaranī wâ ilaihi turja’ụn.

Artinya : “Dan tidak ada alasan bagiku untuk tidak menyembah kepada (Allah) yang telah menciptakanku dan hanya kepada-Nyalah kamu (semua) akan dikembalikan.”


Ayat 23

ءَاَتَّخِذُ مِنْ دُوْنِهٖٓ اٰلِهَةً اِنْ يُّرِدْنِ الرَّحْمٰنُ بِضُرٍّ لَّا تُغْنِ عَنِّيْ شَفَاعَتُهُمْ شَيْـًٔا وَّلَا يُنْقِذُوْنِۚ

A attakhiżu min dụnihī ālihatân iy yuridnir-raḥmānu biḍurril lā tugni ‘annī syafā’atuhum syâi`aw wa lā yungqiżụn.

Artinya : “Mengapa aku akan menyembah tuhan-tuhan selain-Nya? Jika Dzat Yang Maha Pengasih menghendaki bencana terhadapku, pasti pertolongan mereka tidak berguna sama sekali bagi diriku dan mereka (juga) tidak dapat menyelamatkanku.”


Ayat 24

اِنِّيْٓ اِذًا لَّفِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ

Innī iżal lafī ḍâlālim mubīn.

Artinya : “Sesungguhnya jika demikin, pasti aku berada dalam kesesatan yang nyata.”


Ayat 25

اِنِّيْٓ اٰمَنْتُ بِرَبِّكُمْ فَاسْمَعُوْنِۗ

Innī āmantu birâbbikum fasma’ụn.

Artinya : “Sesungguhnya aku beriman kepada Tuhanmu (Allah), maka dengarkanlah (perkataan)-ku, sebagai saksi atas imanku.”


Ayat 26

قِيْلَ ادْخُلِ الْجَنَّةَ ۗقَالَ يٰلَيْتَ قَوْمِيْ يَعْلَمُوْنَۙ

Qīladkhulil-jannah, qāla yā laita qâumī ya’lamụn.

Artinya : “Dikatakan (kepadanya), “Masuklah Kamu ke surga.” Dia (laki-laki itu) berkata, “Alangkah baiknya kalau kaumku mengetahui.”


Ayat 27

بِمَا غَفَرَ لِيْ رَبِّيْ وَجَعَلَنِيْ مِنَ الْمُكْرَمِيْنَ

Bimā gafara lī rabbī wa ja’alanī minal-mukramīn.

Artinya : “Apa yang menyebabkan Tuhanku telah mengampuni dan menjadikan Aku termasuk orang-orang yang telah dimuliakan.”


Ayat 28

 وَمَآ اَنْزَلْنَا عَلٰى قَوْمِهٖ مِنْۢ بَعْدِهٖ مِنْ جُنْدٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَمَا كُنَّا مُنْزِلِيْنَ

Wa mā anzalnā ‘alā qâumihī mim ba’dihī min jundim minâs-samā`i wa mā kunnā munzilīn.

Artinya : “Dan Kami tidak menurunkan atas kaumnya sesudah dia (meninggal dunia) suatu pasukan dari langit dan Kami tidak perlu menurunkannya.”


Ayat 29

اِنْ كَانَتْ اِلَّا صَيْحَةً وَّاحِدَةً فَاِذَا هُمْ خَامِدُوْنَ

Ing kānat illā ṣaiḥataw wāḥidatân fa iżā hum khāmidụn.

Artinya : “Tidak ada siksaan terhadap mereka melainkan dengan satu teriakan saja, maka seketika itu binasalah mereka.”


Ayat 30

يٰحَسْرَةً عَلَى الْعِبَادِۚ مَا يَأْتِيْهِمْ مِّنْ رَّسُوْلٍ اِلَّا كَانُوْا بِهٖ يَسْتَهْزِءُوْنَ

Yā ḥasratan ‘alal-‘ibād, mā ya`tīhim mir rasụlin illā kānụ bihī yastahzi`ụn.

Artinya : “Alangkah besar penyesalan terhadap hamba-hamba itu, setiap datang seorang Rasul kepada mereka, mereka selalu mentertawakannya.”


Ayat 31

اَلَمْ يَرَوْا كَمْ اَهْلَكْنَا قَبْلَهُمْ مِّنَ الْقُرُوْنِ اَنَّهُمْ اِلَيْهِمْ لَا يَرْجِعُوْنَ

A lâm yarau kam ahlaknā qablahum minal-qurụni annâhum ilaihim lā yarji’ụn.

Artinya : “Tidakkah mereka mengetahui berapa banyak umat-umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan. Sesungguhnya orang-orang (yang telah Kami binasakan) itu tidak ada yang kembali kepada mereka.”


Ayat 32

وَاِنْ كُلٌّ لَّمَّا جَمِيْعٌ لَّدَيْنَا مُحْضَرُوْنَ

Wa ing kullul lammā jamī’ul ladainā muḥḍarụn.

Artinya : “Dan setiap (umat), semuanya akan dihimpun dan dihadirkan kepada Kami.”


Ayat 33

وَاٰيَةٌ لَّهُمُ الْاَرْضُ الْمَيْتَةُ ۖاَحْيَيْنٰهَا وَاَخْرَجْنَا مِنْهَا حَبًّا فَمِنْهُ يَأْكُلُوْنَ

Wa āyatul lahumul-arḍul-maitatu aḥyaināhā wa akhrajnā min-hā ḥabban fa min-hu ya`kulụn.

Artinya : “Dan suatu tanda kebesaran Allah bagi mereka adalah bumi yang mati (tandus). Kami hidupkan (suburkan) bumi itu dan Kami keluarkan biji-bijian, maka dari (biji-bijian) itu dapat mereka makan.”


Ayat 34

وَجَعَلْنَا فِيْهَا جَنّٰتٍ مِّنْ نَّخِيْلٍ وَّاَعْنَابٍ وَّفَجَّرْنَا فِيْهَا مِنَ الْعُيُوْنِۙ

Wa ja’alnā fīhā jannātim min nakhīliw wa a’nābiw wa fajjarnā fīhā minal-‘uyụn.

Artinya : “Dan Kami jadikan padanya di bumi itu kebun-kebun kurma dan anggur dan Kami pancarkan padanya beberapa mata air.”


Ayat 35

لِيَأْكُلُوْا مِنْ ثَمَرِهٖۙ وَمَا عَمِلَتْهُ اَيْدِيْهِمْ ۗ اَفَلَا يَشْكُرُوْنَ

Liya`kulụ min ṡâmarihī wa mā ‘amilat-hu âidīhim, a fa lā yasykurụn.

Artinya : “Agar mereka dapat makanan dari buahnya, dan apa yang dikerjakan dari hasil usaha tangan mereka. Maka mengapa mereka tidak bersyukur?”


Ayat 36

سُبْحٰنَ الَّذِيْ خَلَقَ الْاَزْوَاجَ كُلَّهَا مِمَّا تُنْۢبِتُ الْاَرْضُ وَمِنْ اَنْفُسِهِمْ وَمِمَّا لَا يَعْلَمُوْنَ

Sub-ḥānallażī khalaqâl-azwāja kullahā mimmā tumbitul-ârḍu wa min anfusihim wa mimmā lā ya’lamụn.

Artinya : “Mahasuci Dzat yang telah menciptakan semuanya berpasang-pasangan, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka sendiri, maupun dari apa-apa yang tidak mereka ketahui.”


Ayat 37

وَاٰيَةٌ لَّهُمُ الَّيْلُ ۖنَسْلَخُ مِنْهُ النَّهَارَ فَاِذَا هُمْ مُّظْلِمُوْنَۙ

Wa āyatul lahumul-lailu naslâkhu min-hun-nahāra fa iżā hum muẓlimụn.

Artinya : “Dan suatu tanda (bagi kekuasaan Allah) bagi mereka adalah malam, Kami tanggalkan siang dari (malam) itu, maka seketika itu mereka (berada dalam) kegelapan.”


Ayat 38

وَالشَّمْسُ تَجْرِيْ لِمُسْتَقَرٍّ لَّهَا ۗذٰلِكَ تَقْدِيْرُ الْعَزِيْزِ الْعَلِيْمِۗ

Wâsy-syamsu tajrī limustâqarril lahā, żālika taqdīrul-‘azīzil-‘alīm.

Artinya : “Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan (Allah) Yang Maha Perkasa, lagi Maha Mengetahui.”


Ayat 39

وَالْقَمَرَ قَدَّرْنٰهُ مَنَازِلَ حَتّٰى عَادَ كَالْعُرْجُوْنِ الْقَدِيْمِ

Wâl-qamarâ qaddarnāhu manāzila ḥattā ‘āda kal-‘urjụnil-qadīm.

Artinya : “Dan telah Kami tetapkan tempat peredaran bagi bulan, sehingga (setelah ia sampai ke tempat peredaran yang terakhir) kembalilah ia seperti bentuk tandan kurma yang tua.”


Ayat 40

لَا الشَّمْسُ يَنْۢبَغِيْ لَهَآ اَنْ تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلَا الَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ ۗوَكُلٌّ فِيْ فَلَكٍ يَّسْبَحُوْنَ

Lâsy-syamsu yambagī lahā an tudrikal-qamarâ wa lal-lailu sābiqun-nahār, wa kullun fī falakiy yasbaḥụn.

Artinya : “Matahari tidak mungkin mengejar bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Masing-masing beredar pada garis edarnya.”


Ayat 41

وَاٰيَةٌ لَّهُمْ اَنَّا حَمَلْنَا ذُرِّيَّتَهُمْ فِى الْفُلْكِ الْمَشْحُوْنِۙ

Wa āyatul lahum annâ ḥamalnā żurriyyatahum fil-fulkil-masy-ḥụn.

Artinya : “Dan suatu tanda (kebesaran Allah) bagi mereka adalah bahwa Kami bawa keturunan mereka dalam kapal yang penuh muatan (untuk mengarungi lautan).”


Ayat 42

وَخَلَقْنَا لَهُمْ مِّنْ مِّثْلِهٖ مَا يَرْكَبُوْنَ

Wâ khalaqnā lahum mim miṡlihī mā yarkabụn.

Artinya : “Dan Kami ciptakan (juga) untuk mereka (angkutan lain) yang mereka kendarai seperti kapal.”


Ayat 43

وَاِنْ نَّشَأْ نُغْرِقْهُمْ فَلَا صَرِيْخَ لَهُمْ وَلَاهُمْ يُنْقَذُوْنَۙ

Wa in nasya` nugriq-hum fa lā ṣarīkha lahum wa lā hum yungqażụn.

Artinya : “Dan jika Kami menghendaki, Kami karamkan mereka. Maka tidak ada orang yang dapat menolongnya mereka dan tidak (pula) mereka diselamatkan.”


Ayat 44

اِلَّا رَحْمَةً مِّنَّا وَمَتَاعًا اِلٰى حِيْنٍ

Illā raḥmatam minnā wa matā’an ilā ḥīn.

Artinya : “Kecuali karena rahmat yang besar dari Kami dan untuk memberikan kesenangan hidup sampai waktu tertentu.”


Ayat 45

وَاِذَا قِيْلَ لَهُمُ اتَّقُوْا مَا بَيْنَ اَيْدِيْكُمْ وَمَا خَلْفَكُمْ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ

Wa iżā qīla lahumuttaqụ mā baina aidīkum wa mā khalfakum la’allakum tur-ḥamụn.

Artinya : “Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Takutlah kamu akan siksa yang di hadapanmu (di dunia) dan azab yang akan datang (akhirat) dan semoga kamu mendapat rahmat.”


Ayat 46

وَمَا تَأْتِيْهِمْ مِّنْ اٰيَةٍ مِّنْ اٰيٰتِ رَبِّهِمْ اِلَّا كَانُوْا عَنْهَا مُعْرِضِيْنَ

Wa mā ta`tīhim min āyatim min āyāti rabbihim illā kānụ ‘an-hā mu’riḍīn.

Artinya : “Dan setiap kali suatu tanda dari tanda-tanda (wujud dan kebesaran Allah) Tuhan datang kepada mereka, mereka selalu berpaling darinya.”


Ayat 47

وَاِذَا قِيْلَ لَهُمْ اَنْفِقُوْا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللّٰهُ ۙقَالَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لِلَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَنُطْعِمُ مَنْ لَّوْ يَشَاۤءُ اللّٰهُ اَطْعَمَهٗٓ ۖاِنْ اَنْتُمْ اِلَّا فِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ

Wa iżā qīla lahum anfiqụ mimmā razaqakumullāhu qālallażīna kafarụ lillażīna āmanū a nuṭ’imu mal lau yasyā`ullāhu aṭ’amahū in antum illā fī ḍalālim mubīn.

Artinya : “Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Infakkanlah sebagian rezeki yang diberikan Allah kepadamu,” orang-orang yang kafir itu berkata kepada orang-orang yang beriman, “Apakah pantas kami memberi makan kepada orang-orang yang jika Allah menghendaki Dia akan memberinya makan? Kamu benar-benar dalam kesesatan yang nyata.”


Ayat 48

وَيَقُوْلُوْنَ مَتٰى هٰذَا الْوَعْدُ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ

Wa yaqụlụna matā hāżal-wa’du ing kuntum ṣādiqīn.

Artinya : “Dan mereka (orang-orang kafir) berkata, “Kapankah tibanya (hari berbangkit) itu (terjadi) jika kamu orang-orang yang benar?”


Ayat 49

مَا يَنْظُرُوْنَ اِلَّا صَيْحَةً وَّاحِدَةً تَأْخُذُهُمْ وَهُمْ يَخِصِّمُوْنَ

Mā yanẓurụna illā ṣaiḥataw wāḥidatan ta`khużuhum wa hum yakhiṣṣimụn.

Artinya : “Mereka tidak menantikan, melainkan satu teriakan yang akan membinasakan mereka ketika mereka sedang bertengkar.”


Ayat 50

فَلَا يَسْتَطِيْعُوْنَ تَوْصِيَةً وَّلَآ اِلٰٓى اَهْلِهِمْ يَرْجِعُوْنَ

Fa lā yastaṭī’ụna tauṣiyataw wa lā ilā ahlihim yarji’ụn.

Artinya : “Sehingga mereka tidak dapat membuat suatu wasiat dan mereka (juga) tidak dapat kembali kepada keluarganya.”


Ayat 51

وَنُفِخَ فِى الصُّوْرِ فَاِذَا هُمْ مِّنَ الْاَجْدَاثِ اِلٰى رَبِّهِمْ يَنْسِلُوْنَ

Wa nufikha fiṣ-ṣụri fa iżā hum minal-ajdāṡi ilā rabbihim yansilụn.

Artinya : “Lalu ditiuplah sangkakala (terompet), maka seketika itu mereka keluar dari kuburnya (dalam keadaan hidup), menuju kepada Tuhannya.”


Ayat 52

قَالُوْا يٰوَيْلَنَا مَنْۢ بَعَثَنَا مِنْ مَّرْقَدِنَا ۜهٰذَا مَا وَعَدَ الرَّحْمٰنُ وَصَدَقَ الْمُرْسَلُوْنَ

Qālụ yā wailanā mam ba’aṡanā mim marqadinā hāżā mā wa’adar-raḥmānu wa ṣadaqal-mursalụn.

Artinya : “Seraya mereka berkata, “Celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami (kubur)?” Inilah yang dijanjikan Dzat Yang Maha Pengasih dan benarlah Rasul-Rasul(-Nya).”


Ayat 53

اِنْ كَانَتْ اِلَّا صَيْحَةً وَّاحِدَةً فَاِذَا هُمْ جَمِيْعٌ لَّدَيْنَا مُحْضَرُوْنَ

Ing kānat illā ṣaiḥataw wāḥidatan fa iżā hum jamī’ul ladainā muḥḍarụn.

Artinya : “Teriakan itu hanya sekali saja, maka seketika itu mereka semua dihadapkan kepada Kami (untuk dihisab).”


Ayat 54

فَالْيَوْمَ لَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْـًٔا وَّلَا تُجْزَوْنَ اِلَّا مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ

Fal-yauma lā tuẓlamu nafsun syai`aw wa lā tujzauna illā mā kuntum ta’malụn.

Artinya : “Maka pada hari itu seseorang tidak akan teraniaya sedikit pun dan kamu tidak akan diberi balasan, kecuali sesuai dengan apa yang telah kamu kerjakan.”


Ayat 55

اِنَّ اَصْحٰبَ الْجَنَّةِ الْيَوْمَ فِيْ شُغُلٍ فٰكِهُوْنَ ۚ

Inna aṣ-ḥābal-jannatil-yauma fī syugulin fākihụn.

Artinya : “Sesungguhnya penghuni surga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan (mereka).”


Ayat 56

هُمْ وَاَزْوَاجُهُمْ فِيْ ظِلٰلٍ عَلَى الْاَرَاۤىِٕكِ مُتَّكِـُٔوْنَ ۚ

Hum wa azwājuhum fī ẓilālin ‘alal-arā`iki muttaki`ụn.

Artinya : “Mereka dan para istri mereka berada dalam tempat yang teduh, sambil bersandar di atas dipan-dipan.”


Ayat 57

لَهُمْ فِيْهَا فَاكِهَةٌ وَّلَهُمْ مَّا يَدَّعُوْنَ ۚ

Lahum fīhā fākihatuw wa lahum mā yadda’ụn.

Artinya : “Di tempat itu (surga) mereka memperoleh buah-buahan dan memperoleh apa saja yang mereka inginkan.”


Ayat 58

سَلٰمٌۗ قَوْلًا مِّنْ رَّبٍّ رَّحِيْمٍ

Salām, qaulam mir rabbir raḥīm.

Artinya : “(Kepada mereka dikatakan), “Salam,” Sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang.”


Ayat 59

وَامْتَازُوا الْيَوْمَ اَيُّهَا الْمُجْرِمُوْنَ

Wamtāzul-yauma ayyuhal-mujrimụn.

Artinya : “Dan (dikatakan kepada orang-orang kafir), “Berpisahlah kamu (dari orang-orang mukmin) pada hari ini, wahai orang-orang yang berdosa!”


Ayat 60

اَلَمْ اَعْهَدْ اِلَيْكُمْ يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ اَنْ لَّا تَعْبُدُوا الشَّيْطٰنَۚ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ

A lam a’had ilaikum yā banī ādama al lā ta’budusy-syaiṭān, innahụ lakum ‘aduwwum mubīn.

Artinya : “Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu wahai anak cucu Adam agar kamu tidak menyembah setan? Karena sesungguhnya, setan itu musuh yang nyata bagi kamu.”


Ayat 61

وَاَنِ اعْبُدُوْنِيْ ۗهٰذَا صِرَاطٌ مُّسْتَقِيْمٌ

Wa ani’budụnī, hāżā ṣirāṭum mustaqīm.

Artinya : “Dan sembahlah Aku. Inilah jalan yang lurus.”


Ayat 62

وَلَقَدْ اَضَلَّ مِنْكُمْ جِبِلًّا كَثِيْرًا ۗاَفَلَمْ تَكُوْنُوْا تَعْقِلُوْنَ

Wa laqad aḍalla mingkum jibillang kaṡīrā, a fa lam takụnụ ta’qilụn.

Artinya : “Dan sungguhnya setan itu telah menyesatkan sebagian besar di antara kamu. Maka apakah kamu tidak mengerti?”


Ayat 63

هٰذِهٖ جَهَنَّمُ الَّتِيْ كُنْتُمْ تُوْعَدُوْنَ

Hāżihī jahannamullatī kuntum tụ’adụn.

Artinya : “Inilah (neraka) Jahanam yang dahulu telah diperingatkan kepadamu.”


Ayat 64

اِصْلَوْهَا الْيَوْمَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُوْنَ

Iṣlauhal-yauma bimā kuntum takfurụn.

Artinya : “Masuklah kamu ke dalamnya pada hari ini (hari kiamat) karena dahulu kamu mengingkarinya.”


Ayat 65

اَلْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلٰٓى اَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَآ اَيْدِيْهِمْ وَتَشْهَدُ اَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ

Al-yauma nakhtimu ‘alā afwāhihim wa tukallimunā aidīhim wa tasy-hadu arjuluhum bimā kānụ yaksibụn.

Artinya : “Pada hari ini Kami kunci mulut mereka, dan tangan mereka akan berbicara kepada Kami dan kaki mereka akan menjadi saksi terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.”


Ayat 66

وَلَوْ نَشَاۤءُ لَطَمَسْنَا عَلٰٓى اَعْيُنِهِمْ فَاسْتَبَقُوا الصِّرَاطَ فَاَنّٰى يُبْصِرُوْنَ

Walau nasyā`u laṭamasnā ‘alā a’yunihim fastabaquṣ-ṣirāṭa fa annā yubṣirụn.

Artinya : “Dan seandainya Kami menghendaki, niscaya Kami hapuskan penglihatan mata mereka, sehingga mereka berlomba-lomba (mencari) jalan. Maka bagaimana mungkin mereka dapat melihat?”


Ayat 67

وَلَوْ نَشَاۤءُ لَمَسَخْنٰهُمْ عَلٰى مَكَانَتِهِمْ فَمَا اسْتَطَاعُوْا مُضِيًّا وَّلَا يَرْجِعُوْنَ

Walau nasyā`u lamasakhnāhum ‘alā makānatihim famastaṭā’ụ muḍiyyaw wa lā yarji’ụn.

Artinya : “Dan seandainya Kami menghendaki, pastilah Kami ubah bentuk mereka di tempat mereka berada, sehingga mereka tidak sanggup berjalan lagi dan juga tidak sanggup kembali.”


Ayat 68

وَمَنْ نُّعَمِّرْهُ نُنَكِّسْهُ فِى الْخَلْقِۗ اَفَلَا يَعْقِلُوْنَ

Wa man nu’ammir-hu nunakkis-hu fil-khalq, a fa lā ya’qilụn.

Artinya : “Dan barangsiapa yang Kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan dia kepada awal kejadian(nya). Apakah mereka tidak memikirkan?”


Ayat 69

وَمَا عَلَّمْنٰهُ الشِّعْرَ وَمَا يَنْۢبَغِيْ لَهٗ ۗاِنْ هُوَ اِلَّا ذِكْرٌ وَّقُرْاٰنٌ مُّبِيْنٌ ۙ

Wa mā ‘allamnāhusy-syi’ra wa mā yambagī lah, in huwa illā żikruw wa qur`ānum mubīn.

Artinya : “Dan Kami tidak mengajarkan syair (pantun) kepadanya (Muhammad) dan bersyair itu tidaklah pantas untuknya. Al-Qur’an itu tidak lain hanyalah pelajaran dan Kitab yang nyata.”


Ayat 70

لِّيُنْذِرَ مَنْ كَانَ حَيًّا وَّيَحِقَّ الْقَوْلُ عَلَى الْكٰفِرِيْنَ

liyunżira mang kāna ḥayyaw wa yaḥiqqal-qaulu ‘alal-kāfirīn.

Artinya : “Supaya dia (Muhammad) memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup (hatinya) dan agar pasti ketetapan (azab) terhadap orang-orang kafir.”


Ayat 71

اَوَلَمْ يَرَوْا اَنَّا خَلَقْنَا لَهُمْ مِّمَّا عَمِلَتْ اَيْدِيْنَآ اَنْعَامًا فَهُمْ لَهَا مَالِكُوْنَ

A wa lam yarau annā khalaqnā lahum mimmā ‘amilat aidīnā an’āman fa hum lahā mālikụn.

Artinya : “Dan tidakkah mereka melihat bahwa Kami telah menciptakan hewan ternak untuk mereka, yaitu sebagian dari apa yang telah Kami ciptakan dengan kekuasaan Kami, lalu mereka memilikinya?”


Ayat 72

وَذَلَّلْنٰهَا لَهُمْ فَمِنْهَا رَكُوْبُهُمْ وَمِنْهَا يَأْكُلُوْنَ

Wa żallalnāhā lahum fa min-hā rakụbuhum wa min-hā ya`kulụn.

Artinya : “Dan Kami tundukkan diantara (hewan-hewan itu) untuk mereka, maka sebagiannya untuk menjadi tunggangan mereka dan sebagian untuk mereka makan.”


Ayat 73

وَلَهُمْ فِيْهَا مَنَافِعُ وَمَشَارِبُۗ اَفَلَا يَشْكُرُوْنَ

Wa lahum fīhā manāfi’u wa masyārib, a fa lā yasykurụn.

Artinya : “Dan mereka mendapatkan berbagai manfaat dan minuman (air susu) darinya. Maka mengapa mereka tidak bersyukur?”


Ayat 74

وَاتَّخَذُوْا مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ اٰلِهَةً لَّعَلَّهُمْ يُنْصَرُوْنَ ۗ

Wattakhażụ min dụnillāhi ālihatal la’allahum yunṣarụn.

Artinya : “Dan mereka mengambil sesembahan selain Allah agar mereka mendapat pertolongan.”


Ayat 75

لَا يَسْتَطِيْعُوْنَ نَصْرَهُمْۙ وَهُمْ لَهُمْ جُنْدٌ مُّحْضَرُوْنَ

Lā yastaṭī’ụna naṣrahum wa hum lahum jundum muḥḍarụn.

Artinya : “Mereka (sesembahan) itu tidak dapat menolong merek, padahal mereka itu menjadi tentara yang disiapkan untuk menjaga (sesembahan) itu.”


Ayat 76

فَلَا يَحْزُنْكَ قَوْلُهُمْ ۘاِنَّا نَعْلَمُ مَا يُسِرُّوْنَ وَمَا يُعْلِنُوْنَ

Fa lā yaḥzungka qauluhum, innā na’lamu mā yusirrụna wa mā yu’linụn.

Artinya : “Maka jangan sampai ucapan mereka membuat engkau (Muhammad) bersedih hati. Sungguh, Kami mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka nyatakan.”


Ayat 77

اَوَلَمْ يَرَ الْاِنْسَانُ اَنَّا خَلَقْنٰهُ مِنْ نُّطْفَةٍ فَاِذَا هُوَ خَصِيْمٌ مُّبِيْنٌ

A wa lam yaral-insānu annā khalaqnāhu min nuṭfatin fa iżā huwa khaṣīmum mubīn.

Artinya : “Dan tidakkah manusia memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setetes mani, lalu ternyata dia menjadi musuh yang nyata!”


Ayat 78

وَضَرَبَ لَنَا مَثَلًا وَّنَسِيَ خَلْقَهٗۗ قَالَ مَنْ يُّحْيِ الْعِظَامَ وَهِيَ رَمِيْمٌ

Wa ḍaraba lanā maṡalaw wa nasiya khalqah, qāla may yuḥyil-‘iẓāma wa hiya ramīm.

Artinya : “Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami dan melupakan asal kejadiannya. Dia berkata, “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang-belulang, yang telah hancur luluh?”


Ayat 79

قُلْ يُحْيِيْهَا الَّذِيْٓ اَنْشَاَهَآ اَوَّلَ مَرَّةٍ ۗوَهُوَ بِكُلِّ خَلْقٍ عَلِيْمٌ ۙ

Qul yuḥyīhallażī ansya`ahā awwala marrah, wa huwa bikulli khalqin ‘alīm.

Artinya : “Katakanlah (Muhammad), “Yang akan menghidupkannya ialah (Allah) yang menciptakannya pertama kali. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk.”


Ayat 80

ِۨالَّذِيْ جَعَلَ لَكُمْ مِّنَ الشَّجَرِ الْاَخْضَرِ نَارًاۙ فَاِذَآ اَنْتُمْ مِّنْهُ تُوْقِدُوْنَ

Allażī ja’ala lakum minasy-syajaril-akhḍari nāran fa iżā antum min-hu tụqidụn.

Artinya : “Yaitu (Allah) yang menjadikan api untukmu dari kayu yang hijau (kayu basah), maka seketika itu kamu nyalakan (api) dari kayu itu.”


Ayat 81

اَوَلَيْسَ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ بِقٰدِرٍ عَلٰٓى اَنْ يَّخْلُقَ مِثْلَهُمْ ۗبَلٰى وَهُوَ الْخَلّٰقُ الْعَلِيْمُ

A wa laisallażī khalaqas-samāwāti wal-arḍa biqādirin ‘alā ay yakhluqa miṡlahum, balā wa huwal-khallāqul-‘alīm.

Artinya : “Dan bukankah (Allah) yang menciptakan langit dan bumi, memiliki kuasa untuk menciptakan kembali yang serupa itu (jasad mereka yang sudah hancur itu)? Benar, dan Dia Maha Pencipta, Maha Mengetahui.”


Ayat 82

اِنَّمَآ اَمْرُهٗٓ اِذَآ اَرَادَ شَيْـًٔاۖ اَنْ يَّقُوْلَ لَهٗ كُنْ فَيَكُوْنُ

Innamā amruhū iżā arāda syai`an ay yaqụla lahụ kun fa yakụn.

Artinya : “Sesungguhnya urusan perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu Dia hanya berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka jadilah sesuatu itu.”


Ayat 83

فَسُبْحٰنَ الَّذِيْ بِيَدِهٖ مَلَكُوْتُ كُلِّ شَيْءٍ وَّاِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ

Fa sub-ḥānallażī biyadihī malakụtu kulli syai`iw wa ilaihi turja’ụn.

Artinya : “Maka Mahasuci (Allah) yang di tangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu dan kepada-Nya kamu dikembalikan.”

 

Di atas adalah bacaan surat yasin dan terjemahan dari ayat 1-83 lengkap beserta latin dan artinya.

Kurang lengkap jika sudah ada surat yasin namun belum ada bacaan tahlil dan doanya, yuk mari simak bacaan tahlil yang ada di bawah ini.

Tata Cara Bacaan Tahlil Yang Urut dan Benar

Bacaan tahlil mempunyai sedikit perbedaan di berbagai daerah di negara Indonesia. Berikut ulasan tentang bacaan tahlil dan doa yang sering digunakan oleh masyarakat indonesia.

Sekian ulasan tentang bacaan surat yasin dan terjemahan serta keutamaan dari surat yasin. Barang siapa yang membaca surat yasin atau surat-surat lainya di dalam Al Quran niscahya kamu akan mendapat kebahagiaan baik di dunia dan di akhirat.

Semoga dengan adanya ulasan tentang surat yasin dan terjemahan, latin dan artinya ini bisa membantu anda dalam mengamalkanya baik itu setiap sholat fardhu atau malam jumat.

Baca Juga : Contoh Doa untuk Orang yang Meninggal

Semoga bermanfaat, jika menurut anda ini rekomended bisa di bagikan kepada teman teman sekalian ya. Terima kasih.

Show Comments

No Responses Yet

    Leave a Reply